oleh

Peringati Hari Anak Nasional PPA Angkat Slogat, Kita Anak Indonesia Kita Anak Gembira

Makassar, Coronginformasi.com-Dalam peringatan Hari Anak Nasional 2019 yang dilaksanakan di lapangan Karebosi, Makassar Sulawesi Selatan pada Juli lalu, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (kemeneg PPA) mengangkat slogat “Kita Anak Indonesia Kita Anak Gembira”. Slogan tersebut sekaligus menegaskan anak gembira yang berarti tidak sakit, ada unsur kecerdasan serta anak dapat belajar dengan riang. Kamis, 08-08-2019.

Sebagaimana diketahui, tujuan perayaan hari anak adalah memunculkan kepedulian semua pihak untuk mewujudkan lingkungan yang berkualitas bagi anak. Sebab anak merupakan harapan dan investasi bangsa Indonesia dimasa depan. Kualitas anak-saat ini menentukan Indonesia akan menjadi bangsa yang kuat atau lemah. Oleh karena itu fondasi kesehatan anak harus dibangun sejak dini untuk menghasilkan generasi yang sehat dan berkualitas.

Mengacu pada Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018, yang menunjukkan adanya perbaikan status gizi pada balita di Indonesia, diantaranya proporsi status gizi sangat pendek dan pendek turun dari 37,2% (Riskesdas 2013) menjadi 30,8%.

Demikian juga proporsi status gizi buruk dan gizi kurang turun dari 19,6% (Riskesdas 2013) menjadi 17,7%. Meski demikian, WHO masih mengkategorikan Indonesia sebagai negara darurat gizi burut. Sebab ambang batas toleransi stunting yang ditetapkan WHO adalah 20% dari jumlah keseluruhan balita.

Di Sulawesi Selatan, stunting pun masih menjadi persoalan serius yang harus ditangani pemerintah dan masyarakat setempat. Sulawesi Selatan bahkan menempati urutan ke-4 yang memiliki prevelensi stunting tinggi di Indonesia, setelah NTT, NTB dan Sulawesi Tenggara, yaitu Baduta mencapai 29,9% dengan kategori 17,1% pendek dan 12,8% sangat pendek.

Sementara Balita 30,1%. Berdasarkan sebaran wilayah, stunting tertinggi ditemukan di kabupaten Enrekang dan Bone.
Penyebabnya adalah bukan hanya faktor kemiskinan atau daerah yang terisolir, tapi juga karena kurangnya pengetahuan masyarakat akan makanan dan minuman yang bergizi untuk anak.

Fakta pengetahuan masyarakat yang rendah terlihat dari banyaknya kasus gizi buruk akibat kesalahan orang tua memberi asupan makanan pada anak. Di tengah kemajuan teknologi, arus informasi diterima masyarakat tanpa filter.

Masyarakat juga setiap saat terpapar iklan yang belum teruji kebenarannya. Jika tidak dibekali dengan pengetahuan yang tepat, maka masyarakat akan menjadi konsumen tanpa mengetahui baik buruk produk yang dikonsumsinya.

Ketua Harian YAICI Arif Hidayat mencontohkan iklan susu kental manis sebagai salah satu iklan yang telah sekian abad menyesatkan persepsi masyarakat. “SKM yang sejak jaman kolonial hingga milenial, diiklankan sebagai minuman susu untuk bayi dan pertumbuhan anak, telah membentuk persepsi masyarakat bahwa SKM adalah susu bernutrisi.

SKM memiliki kandungan gula yang tinggi yaitu 20gram persekali saji/1 gelas dengan nilai protein 1 gram, lebih rendah dari susu lainnya. Padahal, peruntukan SKM hanyalah sebagai bahan tambahan makanan dan minuman atau topping. Karena itu, perlu pengawasan terhadap promosi dan penggunaan SKM oleh masyarakat,” jelas Arif Hidayat.

Gratis Berlangganan Berita Via WhatsApp

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BACA BERITA LAINNYA :